Selamat Datang di Seni MAN 1 Lubuklinggau, Selamat Menikmati Cara Hidup Sehat, Semoga Anda Betah Dan Selalu Datang Berkunjung di artman1llg, Silahkan komentari, kritik dan Sarannya, Selamat Bargabung.

Hari Amal Bhakti Kemenag Lubuklinggau

Dokumentasi kegiatan

Pembukaan HAB Kemenag 2017 oleh Kakankemenag Drs. Zainuri Mattan, M.Si
Kegiatan disertai jalan santai dengan star lapangan MtsN, dan banjir hadiah utama Sepeda gunung. 

Pertandingan volly putra putri
Lomba menghidang pindang ikan ibu dharmawanita. Tampak tim MAN 1 LLg.
Terpilih hidangan KUA Selatan 1 sebagai juara 1. Kakankemenag mencicipi pindang baung khas masakan daerah Lubuklinggau. 

I love Madrasah, SeLamat Hari Amal  Bhakti KEMENAG 2017
ayo...ngelong ke Lubuklinggau.



Bersinergi Sosialisasi Budaya Anti Korupsi


Memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia. 2017. Bersinergi dengan KPPN dan MAN 1 Lubuklinggau dalam sosialisasi anti korupsi pada hari Rabu, 14 des 2017 di MAN 1 Lubuklinggau. Dihadiri lebih seratus siswa mendengarkan ketua KPPN, ibu Ari Suwandini, MBA,  menyampaikan amanat ttg Pengembangan budaya anti korupsi  dan pengendalian gratifikasi. 

Kegiatan ini disambut baik oleh kepala madrasah Bp. TASLIM, MSi, kegiatan ini sebagai edukasi anti korupsi bagi siswa dan guru di MAN 1. Tak lupa beliau memperkenalkan guru MAN 1 agen penggerak integritas ibu Hj. Annisah, M.Pd dan ibu Hj. Yenni Agustina, S.Ag.
Yang beberapa waktu lalu mengikuti kegiatan TSC, Teacher Supercam yang di selenggarakan KPK.
Harapannya disekolah kita  dapat memberikan teladan dan menumbuhkan karakter siswa yang berintegritas. Dan kepala madrasah berharap penerapan (Jupe mandi sedis tangker). Nilai nilai karakter (Jujur, peduli, mandiri, adil, sederhana, disiplin, tanggungjawab dan kerjakeras).
Dapat disampaikan juga dalam proses kegiatan belajar mengajar.

*salam guru abad 21*

Melongo Pantai di Aceh


Dari Sabang sampai Marauke
berjajar pulau-pulau,
sambung menyambung menjadi satu
itulah Indonesia.

Bait lagu yang sering kunyanyikan diwaktu kecil tepatnya duduk di sekolah dasar.
Dimana Sabang? jauh.... diujung Sumatera.

     Paling bisa lihat peta ATLAS mereka-reka jauhnya Sabang, yang katanya 0 kilimeter, dimulainya pengukuran pulau -pulau Indonesia. Dulu tak terbayang indahnya surga Indonesia yang kaya pantai. Melongo sebentar ke Aceh tahun 2014 merindukanku menulis kecantikan pantainya. Ada pantai Terong di Kecamatan Bebesan, Aceh Tengah. Pantai ini dikelilingi punggung gunung bukit barisan yang elok.
     Ada lagi Pantai Merisi , disini bisa surfing dan mendengarkan legenda Bate Meurendam Dewi Ratu Putri. Juga ada pantai Lampuuk di Aceh Besar. Keindahan pantai adlah pasirnya yang membentang luas dan lautnya yang sangat jernih.
Nah... saya dan rombongan kafilah berkunjung ke Sabang,  ada juga bibir pantainya, bagus eksotis....


     Aceh adalah provinsi dengan status daerah otonomi khusus. Aceh dianggap sebagai tempat dimulainya penyebaran Islam di Indonesia. Dan peran penting dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Hingga sekarang pun nuansa keislaman pada Aceh nampak terasa, banyak wanita yang berbusana sopan menutup aurat hingga bangunan mesjidnya yang megah. 

      Aceh berbatasan dengan Teluk Benggala, Samudra Hindia, Selat Malaka dan Sumatera Utara. Jadi wajar kalau Aceh banyak pantainya berbatasan dengan teluk, samudra dan selat. 

   Ibukota provinsi Aceh adlah Banda Aceh memiliki beberapa pelabuhan yautu pelabuhan Malahayati- Krueng Raya, Ulee Lheue, Sabang, Lhokseumawe dan Langsa. 
Sekarang saya berada di tebing 0 kilometer.... Cahaya matahri yang menerpa membuat kamera nggak kelihatan objeknya.... udah jepret aja. Wuiih.. hasilnya teraang...

      Senangnya di Sabang menikmati indahnya laut lepas, melenyapkan lelah perjalanan yang mendaki dan agak sempit. Mungkin kalau infrastruktur diperbaiki akan lebih nyaman menuju kecantikan Sabang. I love Indonesia....
      Tak lupa disini kami mencicipi masakan Aceh, cocok juga....masih lidah Indonesia. Yang kuingat Mi Aceh nya hmmm.... maknyuss... bener-bener enak dengan paduan seafoodnya. Melongo...
Kapan ke Aceh lagi, sholat dhuha di Baiturrahman, mengingat kematian di museum tsunami dan makan malam udang dan kepiting, dan...hiks..hiks...maam mi Aceh.
Alhamdulillah, sudah cicip kok...mantapp..


Tahfizh Qur'an

Dalam undang undang sistem pendidikan nasional, disebutkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Untuk itu MA Negeri 1 mengadakan program Tahfizh qur’an untuk seluruh siswa MAN 1  tahun pelajaran 2017-2018. Program kegiatan rumah tahfiz Al-‘Uluum”  adalah serangkaian kegiatan guru dan siswa yang terarah dan berjenjang untuk membantu siswa mencapai kemampuan membaca dan menghafal Al-Quran yang berkualitas. Kegiatan pembelajaran yang terarah berarti kegiatan pembelajaran Al-Quran yang memiliki tujuan dan target yang jelas sesuai dengan kemampuan murid. Berjenjang berarti murid mengikuti pembelajaran yang bertahap agar mengalami peningkatan kemampuan dan kualitas. Kegiatan siswa ini dibimbing oleh guru-guru PAI, guru sebagai tenaga profesional mempunyai peran yang sangat penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab. Dengan bimbingan guru ini diharapkan muncul generasi qur’ani yang menghidupkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang menyejukkan hati dalam hafalan ayat dan hadits-hadits.

    Foto : Siswa peserta kelas khusus Rumah Tahfizh “Al Uluum”

Foto : Pertemuan Pembentukan Rumah Tahfizh “Al-‘Uluum”

Foto : Guru  menerima setoran hafalan siswa

Foto : Kegiatan Setoran Hafalan di Mushollah bagi peserta khusus.

Resep Sehat Ya.. Donor Darah


Oleh Al Ustadz Ahmad Rosyidi
 
Wa'alaykum salam wa Rahmatullahi wa Barakatuh. 
Saudara Ali yang dimulyakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'alaa. Berikut penjelasan dari apa yang saudara tanyakan :
 
Terkait hukum donor darah menurut Islam. Ada tiga hal yang harus dibicarakan untuk menjawab pertanyaan di atas :
 
Pertama : Siapakah orang yang menerima darah yang didonorkan itu ?
Kedu a: Siapakah orang yang mendonorkan darahnya itu ?
Ketiga : Instruksi siapakah yang dipegang dalam pendonoran darah itu ?
 
Perkara pertama :
 
Yang boleh menerima darah yang didonorkan adalah orang yang berada dalam keadaan kritis karena sakit ataupun terluka dan sangat memerlukan tambahan darah.
 
Dasarnya adalah firman Allah Ta'ala : ”Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya”. (QS. 2:173).
 
Dalam ayat lain Allah berfirman : ”Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. 5:3).
 
Dalam ayat lain Allah juga berfirman : "Dan sungguh telah dijelaskan kepadamu apa-apa yang diharamkan atasmu kecuali yang terpaksa kamu memakannya." (QS. 6:119)
 
Bentuk pengambilan dalil dari ayat di atas bahwasanya jikalau keselamatan jiwa pasien karena sakit atau luka sangat tergantung kepada darah yang didonorkan oleh orang lain dan tidak ada zat makanan atau obat-obatan yang dapat menggantikannya untuk menyelamatkan jiwanya maka dibolehkan mendonorkan darah kepadanya. Dan hal itu dianggap sebagai pemberian zat makanan bagi si pasien bukan sebagai pemberian obat. Dan memakan makanan yang haram dalam kondisi darurat boleh hukumnya, seperti memakan bangkai bagi orang yang terpaksa memakannya.
 
Perkara kedua :
 
Boleh mendonorkan darah jika tidak menimbulkan bahaya dan akibat buruk terhadap si pendonor darah, berdasarkan hadits Nabi SAW : "Tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan jiwa dan tidak boleh pula membahayakan orang lain."
 
Perkara ketiga :
 
Instruksi yang dipegang dalam pendonoran darah itu adalah instruksi seorang dokter muslim. Jika tidak ada, maka kelihatannya tidak ada larangan mengikuti instruksi dokter non muslim, baik dokter itu Yahudi, Nasrani ataupun selainnya. Dengan catatan ia adalah seorang yang ahli dalam bidang kedokteran dan dipercaya banyak orang. Dasarnya adalah sebuah riwayat dalam kitab Ash-Shahih, bahwasanya Rasulullah menyewa seorang lelaki dari Bani Ad-Diel sebagai ‘khirrit’, sementara ia masih memeluk agama kaum kafir Quraisy. Khirrit adalah penunjuk jalan (guide) yang mahir dan mengenal medan. (H.R Al-Bukhari No: 2104).
 
Dapat dilihat dalam fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim.
 
Lembaga tertinggi Majelis Ulama juga mengeluarkan fatwa berkenaan dengan masalah ini sebagai berikut :
 
Pertama:
Boleh hukumnya mendonorkan darah selama tidak membahayakan jiwanya dalam kondisi yang memang dibutuhkan untuk menolong kaum muslimin yang benar-benar membutuhkannya.
 
Kedua:
Boleh hukumnya mendirikan Bank donor darah Islami untuk menerima orang-orang yang bersedia mendonorkan darahnya guna menolong kaum muslimin yang membutuhkannya. Dan hendaknya bank tersebut tidak menerima imbalan harta dari si sakit ataupun ahli waris dan walinya sebagai ganti darah yang di donorkan. Dan tidak dibolehkan menjadikan hal itu sebagai lahan bisnis untuk mencari keuntungan, karena hal itu berkaitan dengan kemaslahatan umum kaum muslimin.
 
Lihat Buku Al-Idhthirar Ilal Ath'imah Wal Adwiyah Al-Muharramah karangan Ath-Thariiqi hal 169. Sumber : islam-qa.com . Note : artikel di atas telah dimuat dalam Labbaik, edisi : 033/th.04/Rajab-Sya’ban 1428H/2007M.
 
Hukum mendonorkan darah adalah boleh dengan syarat dia tidak boleh menjual darahnya, karena Rasulullah -Shallallahu alaihi wasallam- bersabda dalam hadits Ibnu Abbas -radhiyallahu anhuma-:
 
إِنَّ اللهَ إِذَا حَرَّمَ عَلَى قَوْمٍ أَكْلَ شَيْءٍ, حَرَّمَ عَلَيْهِمْ ثَمَنَهُ
"Sesungguhnya jika Allah mengharamkan sebuah kaum untuk memakan sesuatu maka Allah akan haramkan harganya."
 
Sedangkan darah termasuk dari hal-hal yang dilarang untuk memakannya, sehingga harganya pun (baca: diperjual belikan) diharamkan.
 
Adapun jika yang membutuhkan darah memberikan kepadanya sesuatu sebagai balas jasanya, maka boleh bagi sang pendonor untuk mengambilnya, tapi dengan syarat, dia tidak memintanya sebelum dan sesudah donor, tidak mempersyaratkannya, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik secara jelas maupun dengan isyarat, baik secara zhohir maupun batin. Kapan dia melaksanakan salah satu dari perkara-perkara di atas, maka haram baginya untuk menerima pemberian dari orang tersebut.
 
Adapun orang yang membutuhkan darah, sementara dia tidak mendapatkan darah yang gratis, maka boleh baginya membeli darah dari orang lain –karena darurat-, sedangkan dosanya ditanggung oleh yang menjualnya. Wallahu A’lam.
 
Didalam Syarhul Buyu’ min Kitab Ad-Durori hal. 14 disebutkan :
 
Syaikh Zaid bin Muhammad Al-Madkhali menjawab ketika ditanya dengan pertanyaan di atas, “Jika maslahat pasti terhasilkan, dan tidak timbul mudharat yang parah pada dirinya ketika darahnya dihisap, maka tidak ada larangan untuk mendonorkannya dan di dalamnya ada pahala yang besar”, dengan dalil AL-Kitab dan As-Sunnah, berdasarkan firman Allah Ta’ala, “Barangsiapa yang berbuat kebaikan walaupun sekecil semut maka dia akan melihat (pahala)nya, dan barangsiapa yang beramal dengan kebaikan walaupun sekecil semut niscaya dia akan melihat (balasan) nya”.
 
Juga sebagaimana Nabi -shallallahu alaihio wasallam bersabda, “Allah senantiasa menolong hambanya selama hamba itu menolong saudaranya”. Akan tetapi, tidak boleh menjual darahnya dan memakan hasilnya, wallahu A’lam. (Lihat Al-’Aqdil Mandhid hal. 340).
 
Adapun memasukkan darah ke tubuh orang lain, maka itu adalah haram, karena dia termasuk ke dalam perbuatan memakan darah, sementara Allah -’Azza wa Jalla- berfirman, "Diharamkan atas kalian (untuk memakan) bangkai, darah, daging babi, dan apa yang disembelih untuk selain Allah." (Al-Ma`idah: 3)
 
Akan tetapi jika keadaannya mendesak dan darurat, sehingga bisa membahayakan nyawa pasien jika dia tidak diberi darah, maka hal itu dibolehkan sesuai dengan kadar yang dibutuhkan. Ini terambil dari dua kaidah yang masyhur di kalangan ulama: Hal yang darurat membolehkan dikerjakannya hal-hal yang dilarang (Adh-Dhoruroh tubihul mahzhuroh), dan hal yang darurat dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan (Adh-Dhoruroh tuqaddaru biqadariha).
 
Ini merupakan kesimpulan dari fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah dan Asy-Syaikh Abdurrahman bin Mar’i Al-Adani, sebagaimana bisa dilihat dalam Syarhul Buyu’ min Kitab Ad-Durori hal. 14